Coba jawab pertanyaan sederhana dari saya ini: Ingatkah Anda kapan terakhir kali Anda lupa sesuatu? atau Lupakah Anda bahwa Anda pernah mengingat sesuatu? Ada beragam kombinasi jawaban untuk kedua pertanyaan itu yang berkisar pada 'ya' dan 'tidak'. Namun, jika ditilik lebih jauh ingat dan lupa menjadi sangat sulit dibedakan.

Ketika kita merasa melupakan sesuatu, saat itu pulalah sebenarnya kita sudah mulai mengingat sesuatu yang belum muncul ke pikiran kita. Dan, saat kita berhasil mengingat sesuatu, sebenarnya kita melupakan pilihan lain yang mungkin saja seharusnya muncul di pikiran kita. Contoh nyatanya seperti ini, saat kita merasa lupa tentang arti kata 'angkasa' dalam bahasa Inggris, sebenarnya kita sudah mulai sadar bahwa ada ingatan yang sudah pernah ada tapi belum muncul di pikiran kita. Saat itulah, saat kita sadar bahwa kita lupa, kita sedang mulai mengingatnya. Lalu saat kita berhasil mengingat kata 'sky', sebenarnya kita melupakan pilihan lain (misalnya 'space' yang juga berarti 'angkasa') yang mungkin saja seharusnya muncul di pikiran kita. Jadi saat kita merasa lupa, kita sebenarnya sedang mengingat. Dan, saat kita berhasil mengingat, kita melupakan.

Hubungan lupa-ingat ini selalu dianggap bertentangan. 'Lupa' selalu dilawankan dengan 'ingat'. Padahal, kalau kita lihat penjelasan tadi, lupa-ingat tidak berlawanan sama sekali. Malah, mereka boleh dibilang memiliki hubungan implikasi. Salah satunya mengimplikasikan yang lain. Kalau sudah seperti ini, maka tidak masalah lupa atau ingat. Kita hanya perlu sadar dan merasa lupa agar bisa mulai mengingat lagi. Saat kita selalu merasa berhasil mengingat, saat itu juga banyak hal yang kita lupa.

Ugit Rifai


Beberapa hari yang lewat, saya menyaksikan pertemuan dua sahabat lama. Mereka adalah Emak dan seorang sahabatnya semasa remaja.

Awalnya ada sepasang suami-istri yang sudah terlihat renta mengucap salam di depan pintu rumah. Mereka lalu menyebut nama Emak sambil menanyakan apakah ini rumahnya. Kakakku yang menemui mereka langsung mengiyakan dan mempersilakan keduanya masuk. Saya lalu bertanya-tanya karena tak ada yang mengenali sepasang tamu ini.

Masa sebentar, Emak sudah bersiap menemui mereka. Saat Emak duduk bersama tamu-tamu ini, ternyata Emak tidak mengenalinya sampai harus menanyakan berulang-ulang. Rupanya sang tamu tidak mau membuatnya mudah. Ia lalu mengingatkan Emak tentang masa remaja mereka sebagai teman mengaji bersama. Entah setelah petunjuk keberapa, Emak akhirnya berhasil mengingat tamu ini. Lalu, tahu-tahu saja kedua sahabat lama ini sudah larut dalam nostalgia diiringi tawa.

Seperti (mungkin) umumnya sahabat lama yang sudah berkeluarga, mereka lalu bercerita tentang keluarga masing-masing, tentang anak-cucu mereka. Di tengah-tengah kami, Emak lalu bercerita tentang sahabatnya ini dan kenangan semasa mereka bersama dulu. Tak banyak memang, tapi cukup untuk membuat kesimpulan bahwa dulu mereka sangat dekat.

Pertemuan ini lalu membuatku bertanya: Saat aku sudah tua nanti, adakah teman lama yang berkunjung dan berbagi kenangan lagi? Lalu saya sadar, jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya sedang saya rancang (dengan atau tanpa saya sadari). Bagaiana saya berteman dengan orang-orang di sekitar saya, bagaimana saya memberikan kesan kepada mereka akan sungguh membentuk jawaban dari pertanyaan saya tadi. Nama sudah tak penting lagi untuk diingat. Kesan dan kenangan yang kita berikan kepada orang lain lah yang akan benar-benar membangun memori spesial. Lihat saja bagaimana Emak yang awalnya lupa lalu mengambil kembali memori yang tersimpan lama dengan mudah berkat kesan yang dibangun sahabatnya dulu saat mereka bersama.

Ini mungkin belum menjadi gambaran persahabatan ideal, tapi paling tidak, ada satu sisi ideal yang tak boleh disepelekan. Sahabat bukan hanya saat bersama, tapi hingga nanti setelah terpisah sekian lamanya lalu dipertemukan kembali. Saat remaja mereka bersahabat. Dan, dengan caranya masing-masing, mereka tetap bersahabat. Merekalah sahabat lama, sahabat (hingga) tua.